PRESS RELEASE Konsolidasi Undip Raya dan #PerlawananOmnibusLaw
Sumber : Dokumen Pribadi
Pada
Selasa (06/10) pukul 20.30 WIB telah dilaksanakan “Konsolidasi Undip Raya :
Tolak RUU Cipta Kerja” melalui Zoom
meeting dan Live YouTube yang diadakan oleh BEM Undip. Acara ini dihadiri oleh
mahasiswa Undip sebagai respon penolakan atas disahkannya RUU Cipta Kerja
(Omnibus Law) pada tanggal 5 Oktober 2020.
Mahasiswa dari berbagai fakultas di Undip turut berpartisipasi pada acara ini karena isu yang diangkat dalam panggilan konsolidasi menimbulkan polemik yang dirasa merugikan pekerja/buruh. Para mahasiswa juga turut meramaikan acara ini untuk menunjukkan kontribusinya dalam memperjuangkan hak-hak pekerja/buruh Indonesia. Tingginya antusiasme mahasiswa membuat konsolidasi yang semula hanya diadakan via Zoom meeting, dialihkan ke Live Youtube BEM Undip. Hal tersebut di luar perencanaan awal sehingga acara yang seharusnya dimulai pukul 19.30 WIB menjadi mundur sekitar satu jam.
Pada acara Konsolidasi se-Undip Raya ini, pokok bahasan yang didiskusikan dengan topik “Batalkan Omnibus Law, Stop PHK, Sahkan RUU PKS (Perlindungan Kekerasan Seksual), Pemerintah Fokus Tangani Pandemi COVID-19, dan Stop Kriminalisasi terhadap Aktivis”. Selain itu, juga menjelaskan teknis lapangan untuk aksi nasional perlawanan Omnibus Law di Jawa Tengah yang akan dilaksanakan pada hari Rabu, 7 Oktober 2020.
Aksi
tersebut dimulai sejak pukul 10.00 WIB dengan titik kumpul di pos 4 Pelabuhan
Tanjung Emas dan berakhir di Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Jawa Tengah.
Aksi ini diikuti oleh aliansi GERAM yang dibersamai oleh Tim Polsek Tembalang
dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Pada pukul 16.00 mahasiswa Undip
menarik diri karena situasi demo sudah tidak kondusif. Aksi diwarnai dengan
insiden pelemparan batu antara aparat dengan demonstran, serta penembakan gas
air mata oleh aparat pada pukul 16.05. Akibat dari insiden tersebut, beberapa
mahasiswa Undip terkena imbasnya. Demo berakhir dengan aksi saling ricuh yang
menyebabkan beberapa demonstran mengalami luka cukup serius, seperti patah
tulang hidung. Aksi rusuh ini diduga berasal dari pelajar STM. Aparat mengamankan 50-100 demonstran yang
diduga sebagai provokator. Namun sayangnya aksi nasional perlawanan Omnibus Law
di Jawa Tengah ini masih belum membuahkan hasil apapun.
Post a Comment