Terasing dari Ibu Pertiwi: Review Film Eksil (2022)
Sumber: Google
Mencari ilmu ke luar negeri tetapi tak bisa kembali ke tanah air sendiri. Kalimat itu mungkin hanya sepenggal gambaran dari kondisi yang dialami para eksil. Pada Bulan November di tahun 2022, Lola Amaria merilis film bergenre dokumenter yang mengisahkan kisah dan perjalanan hidup para eksil di manca negara.
Pada era pemerintahan Soekarno, sekitar tahun 1960-an banyak pemuda Indonesia yang dikirim dan dibiayai untuk menimba ilmu di luar negeri. Para pemuda itu tersebar di beberapa negara seperti Ceko, Uni Soviet (Rusia), China, Belanda, Jerman, dan Swedia. Mereka rela meninggalkan kampung halaman dan sanak saudara agar dapat membawa perubahan bagi bangsa Indonesia.
Namun, setelah adanya peristiwa Gerakan 30 September 1965, kehidupan para eksil ikut terancam. Mereka dianggap turut terlibat menjadi komplotan, mereka tak diperbolehkan pulang, paspor ditahan, dan juga dibungkam. Berhari-hari diawasi, dijaga, diisolasi, mereka akhirnya dipaksa untuk mengasingkan diri dan melepas identitas sebagai WNI jika tidak mau mengikuti perintah pemerintahan baru.
Hidup tanpa kewarganegaraan dan perlindungan dari negara manapun di tempat asing sangat menakutkan, bertahun-tahun menagih janji agar bisa pulang, mereka tetap tak dihiraukan. Para eksil hanya bisa menunggu dan melanjutkan hidup sambil mengisi rumah mereka dengan ornamen bercirikan tanah kelahiran. Peta Indonesia dan kipas tradisional yang terbentang di dinding, kain batik, buku berbahasa Indonesia, komputer yang menampilkan laman harian Kompas, bahkan pohon pisang dan pohon bambu yang sulit tumbuh pun mereka rawat agar menjadi pengingat.
Rencana rekonsiliasi serta pencabutan TAP MPRS XXV Tahun 1966 hadir di zaman Gusdur dengan tujuan melindungi semua warga Indonesia sesuai dengan pancasila dan konstitusi. Namun, rencana tindak lanjut itu tidak berlanjut.
Setelah berpuluh-puluh tahun tak bisa pulang, beberapa eksil yang sudah tak lagi muda akhirnya mempunyai kesempatan untuk mengunjungi kampung halaman mereka. Rasa senang, sedih, ragu, takut, khawatir, dan juga kaget bercampur menjadi satu. Kampung tempat mereka menjalani masa kecil sudah berubah, tak sama saat seperti mereka pergi. Dapat melihat pohon pisang dan pohon kelapa secara langsung, mendengar suara klakson ciri kemacetan di ibu kota, hal-hal yang kecil itu membuat para eksil yang pulang tersenyum lebar.
Walau, saat beberapa eksil datang, pengawasan, intimidasi, dan tatapan tajam ikut menyambut. Mengunjungi makam ayah dan ibu yang tak dapat dihadiri pemakamannya, bersantai di pantai, bahkan mengunjungi sanak saudara pun berakhir pengusiran. Meski begitu, cinta dan perjuangan para eksil untuk ibu pertiwi tidak dapat berhenti. Bahkan, lagu Indonesia Pusaka terdengar amat syahdu saat mengantarkan salah satu eksil yang menjadi narasumber berpulang ke pangkuan Tuhan.
Eksil sukses membuat para penonton menitikkan air mata haru seusai menontonnya. Film dokumenter ini menyuguhkan penonton dengan sinematografi, narasi, dan cuplikan video keseharian para eksil yang hangat dan mendalam, alurnya mengalir seperti mendengarkan kakek bercerita pada cucu. Film ini juga dapat membuat kita untuk terus membuka mata pada bangsa dan sejarah, yang mungkin tidak diajarkan di buku sekolah.
“Indonesia itu jasnya saja yang berubah, isinya masih sama.”
──────
“Kuburan kami ada di mana-mana, kuburan kami berserakan di mana-mana, di berbagai negeri, di berbagai benua.”
──────
“Saya masih milik Indonesia, tapi Indonesia tidak lagi dipunyai saya.”
Saat ini, Eksil hanya tayang terbatas dan dapat ditonton melalui acara nonton bareng (nobar) baik di bioskop maupun acara komunitas seperti komunitas membaca. Pada 28 Februari 2025 lalu, nobar Eksil juga sudah diselenggarakan di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Semarang. (alvita)
Post a Comment